iklan banner 960 x 75

Monday, June 9, 2014

Sepekan Jelang Piala Dunia, Brasil Dikepung Unjuk Rasa


 Demonstran memprotes biaya besar yang dikeluarkan untuk Piala Dunia.

  Ilustrasi demo di Brasil
 Denny Armandhanu, Santi Dewi | Kamis, 5 Juni 2014, 17:20 WIB

 VIVAnews - Perhelatan Piala Dunia 2014 tinggal satu pekan lagi. Namun, justru di saat genting itu, Brasil sebagai negara tuan rumah justru dikepung unjuk rasa besar-besaran. 

Stasiun berita Channel News Asia, Kamis 5 Juni 2014 melansir para pekerja kereta bawah tanah menyerukan berdemonstrasi tengah malam nanti. Kereta bawah tanah yang terancam tidak beroperasi berada di kota-kota bisnis di Brasil yang menjadi penghubung bagi 20 juta penggunanya. 

Akibatnya, sebanyak 4,5 juta penumpang hari ini terancam terlantar dan menimbulkan kekacauan.
Sebelumnya, sebanyak 400 pensiunan polisi militer dan kerabat mereka telah berunjuk rasa di luar stadion Corinthian Arena, Sao Paulo. Stadion itu rencananya akan menjadi lokasi pembukaan pertandingan Piala Dunia pada 12 Juni mendatang. 

Mereka memblokir jalan-jalan di sekitar area itu dengan menggunakan 15 bus dan bahkan kendaraan yang lebih kecil. Akibatnya kemacetan parah terjadi hingga beberapa kilometer. 

Para pensiunan itu menuntut kenaikan dana pensiun. Sementara demonstrasi lainnya dilakukan oleh sekitar 4.000 pengunjuk rasa yang menamakan diri Gerakan Pekerja Tuna Wisma (MTST). Gerakan ini telah mencengkeram Brasil dengan aksi unjuk rasa selama satu tahun terakhir. 

Menurut para demonstran, Pemerintah Brasil hanya membuang-buang dana dengan menjadi tuan rumah Piala Dunia. Sebab, dana lebih dari US$11 miliar atau Rp130 triliun seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan mendesak lain di bidang pendidikan, perawatan kesehatan dan transportasi.

Pemerintah Brasil juga dihadapkan pada kritik akibat membengkaknya biaya penyelenggaraan dan penundaan yang parah. Dari 12 stadion yang akan digunakan sebagai lokasi pertandingan, baru tujuh stadion yang siap dipakai. 

Bahkan, stadion untuk pembukaan, Corinthians Arena, masih belum rampung pengerjaannya. Area tempat duduk belum semua dipasang. 

Namun, penyelenggara sudah membangun banyak infrastruktur yang sebelumnya mereka janjikan. Infrastruktur seperti pembangunan jalan hingga kereta berkecepatan tinggi, jalur kereta bawah tanah dan monorel, sudah selesai dibangun. 

Sementara Presiden Brasil, Dilma Roussef, membela diri keputusan Pemerintah dengan menyatakan negaranya siap menggelar Piala Dunia. Roussef pun turut menyalahkan organisasi FIFA terhadap membengkaknya biaya tersebut. 

Dia juga mengatakan sebagian besar pembangunan fasilitas publik tidak hanya untuk ajang Piala Dunia semata, tetapi untuk kepentingan jangka panjang. 
© VIVA.co.id

Berita Terkait

0 comments:

Post a Comment